Selasa, 13 November 2012

I Love Madrasah


Mari kita kampanyekan I Love Madrasah dengan menempel logo diatas pada motor, mobil, kelas, dan pintu rumah kita

Minggu, 25 Maret 2012

Jumat, 03 Februari 2012

MAN Padangan Leads in Sport and Art

Oleh: Ahmad Rizani, S.Pd


Prestasi olahraga siswa-siswi di MAN Padangan cenderung meningkat untuk  tahun terakhir ini. keterbatasan dukungan sarana dan prasarana olahraga di MAN Padangan menjadi kendala utama dalam pencapaian prestasi olahraga tersebut. Dengan seiring waktu mulai terlengkapi beberapa fasilitas yang ada.Untuk itu MAN Padangan bertekad untuk meraih prestasi olahraga baik tingkat kota maupun tingkat yang lebih tinggi lagi dengan melakukan pencarian bibit-bibit yang bagus di MAN Padangan dan melakukuan latihan yang maksimal.

Olahraga prestasi adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan potensi olahragawan. Olahraga prestasi dilaksanakan proses pembinaan melalui dan pengembangan secara terencana berjenjang,berkelanjutan dan latihan yang maksimal. Sistem nilai berprestasi dalam suasana kompetisi, perencanaan jangka panjang, sportivitas, merupakan contoh dari nilai inti yang terdapat dalam olahraga prestasi. Sebuah Pertandingan atau kejuaraan merupakan arena untuk mengaplikasikan segala kemampuan yang dimiliki dan juga merupakan titik kulminasi puncak dan hasil latihan sebagai suatu proses pembinaan frekuensi pertandingan yang teratur, terarah dan berjenjang akan memberi peluang kepada atlit dalam meningkatkan prestasinya, meningkatkan kesiapan dan kemampuan organisasi olahraga dan atlet yang senantiasa menjunjung tinggi sportivitas dan idealisme bertanding (fair play)


Suatu lingkungan masyarakat yang masih belum mampu meresapi makna berprestasi dalam segala aspek termasuk olahraga akan tetap sukar untuk diajak berpartisipasi dalam olahraga. Untuk kelompok masyarakat seperti itu maka perlu difikirkan perlakuan khusus dalam pembinaan mulai dari sekedar berpartisipasi olahraga untuk tujuan hiburan dan kesehatan untuk kemudian beralih kearah prestasi. Namun perubahannya memerlukan proses yang cukup lama.
VISI DAN MISI

1. Visi
Menjadi sekolah yang memiliki tim olahraga yang siap bartanding dalam rangka meraih keunggulan prestasi olahraga tingkat kecamatan,kabupaten dan propinsi.

2. Misi
a. Bertekad untuk meraih prestasi olahraga baik tingkat kota maupun tingkat propinsi yang lebih tinggi lagi dengan melakukan pencarian bibit-bibit yang bagus di MAN Padangan dan melakukuan latihan yang maksimal.
b. Mampu menjadi juara tingkat pelajar se kab- Bojonegoro pada lomba-lomba olahraga prestasi
c. Meningkatkan pembinaan dan pendidikan terhadap atlet yang potensial untuk dapat berkiprah di tingkat kecamatan,kabupaten dan propinsi.

Daftar atlet yang berprestasi dan membanggakan MAN PADANGAN:
- Martha tilar juara 2 bulu tangkis putri PORKAB
- Joko PU juara 2 lempar lembing PORKAB
- Teguh sudirman juara 2 lari 100 m putra PORSENI MAN se-Kab bojonegoro
- Khoirul anam juara 2 lari 1500 m putra PORSENI MAN se-Kab bojonegoro
 -    Fitriani juara 3 lari 1500 m putri PORSENI MAN se-Kab bojonegoro
- Fitriani juara 3 lari 1500 m putri PORKAB
- Ihmaludin cholis juara 3 bulu tangkis putra PORSENI MAN se-Kab bojonegoro

Semoga para atlet lebih bersemangat lagi berlatih dan mencapai prestasi yang lebih membanggakan lagi..kita yakin MAN PADANGAN BISAAA berbicara dalam prestasi olahraga.


Ahmad Rizani: Guru olah raga dan pembina ekstra olah raga prestasi MAN PAdangan

Senin, 02 Januari 2012

Manfaat Berkemah Bagi Kecerdasan Natural Anak

Oleh: Kak 'Ain

Banyak orangtua menjadi bingung ketika anak meminta izin untuk ikut berkemah bersama teman-temannya. Biasanya orangtua akan merasa serba salah bila harus memutuskan hal yang satu ini. Jika diizinkan, mereka takut kalau-kalau nanti terjadi sesuatu yang tidah diharapkan. Tetapi jika dilarang, anak biasanya akan marah dan merasa kecewa. Anak akan beranggapan bahwa orangtua tidak pengertian dan tidak mau memberikan kesempatan kepadanya untuk bisa bersenang-senang bersama teman.

Memberikan izin kepada anak untuk berkemah memang tidak mudah. Terutama bagi orangtua yang tidak biasa melepaskan anak bermalam di suatu tempat yang baru dan bersama pihak lain. Kondisi seperti ini akan cenderung membuat orangtua ingin melarang anak agar tidak jadi ikut berkemah. Sebab, membiarkan anak pergi berkemah boleh jadi akan membuat perasaan orangtua menjadi terasa sangat tersiksa. Bayangan-bayangan negatif yang mungkin terjadi pada diri anak selama di perkemahan akan terasa sulit sekali untuk dihapuskan.

Menyikapi hal di atas, sebagai upaya untuk menghindarkan perasaan khawatir yang berlebihan maka orangtua seyogyanya meyakinkan terlebih dahulu bahwa anak akan mengikuti acara berkemah bersama orang-orang yang dapat dipercaya dan di lokasi yang tidak membahayakan (aman). Bila semuanya sudah jelas, janganlah orangtua lupa untuk memberikan penjelasan kepada anak tentang apa saja yang harus dilakukan apabila ia mendapatkan kendala saat berkemah. Selain itu, pesankan kepada anak dengan cara yang bijak agar ia selalu menjaga diri dengan baik.

Sejatinya, banyak nilai positif yang dapat diambil oleh anak melalui berkemah ini. Beberapa di antaranya adalah mengajarkan anak bagaimana bertahan hidup, belajar bekerja sama dengan orang lain bila ia membutuhkan bantuan, belajar bagaimana cara membuat tempat untuk beristirahat yang nyaman dan aman. Selain itu, berkemah juga baik untuk merangsang kecerdasan natural (naturalist intelligence) anak. Sebab, membiarkan anak berada di ruang terbuka dapat mendorong anak mengetahui banyak informasi dan pengetahuan tentang bentuk-bentuk alam yang ada di sekitarnya

Kak 'Ain: Pembina Pramuka MAN PAdangan

Jumat, 02 Desember 2011

Arti Pendidikan Karakter


oleh: Said Edy Wibowo

Persembahan buat Saudaraku Para Pendidik di MAN PADANGAN.


Seperti terminologi lainnya, tidak ada defenisi tunggal untuk pendidikan karakter. Secara etimologis, karakter berarti watak atau tabiat. Ada juga yang menyamakannya dengan kebiasaan. Selain itu ada yang mengaitkannya dengan keyakinan. Bahkan disamakan dengan akhlak.Dari pengertian ini, yang jelas karakter sering dikaitkan dengan kejiwaan. Karenanya, menurut ahli psikologi, karakter adalah sistem keyakinan dan kebiasaan yang ada dalam diri seseorang yang mengarahkannya dalam bertingkah laku. Lalu dimanakah letak karakter dalam diri seseorang? Inipun sulit dijawab. Namun ada “hukum” yang menarik terkait karakter. Kira-kira begini bunyinya: pikiran menghasilkan ucapan; ucapan mempengaruhi tindakan; tindakan menghasilkan kebiasaan; kebiasaan membentuk karakter; karakter menentukan nasib.Ternyata, hal yang paling mendasar dalam pembentukan karakter itu tiada lain adalah pikiran. Maklumlah, dalam pikiran itulah semua tindakan manusia itu diprogram. Bermula dari pikiran itulah, baik buruknya tindakan manusia berasal. Bilamana pikirannya positif, maka tindakannya positif dan sebaliknya.Oleh sebab itu, pikiran harus mendapatkan asupan yang baik agar menghasilkan asupan yang baik agar menghasilkan tindakan yang baik. Dalam konteks inilah pendidikan karakter sangat penting guna memberikan asupan yang baik itu. Kenyataannya, secara intrinsik yang namanya pendidikan bertujuan memberikan pikiran-pikiran positif. Jadi kloplah pasangan kata pendidikan dan karakter ini.

Empat Dimensi Pendidikan Karakter

Mencermati konsep dasar pendidikan, karakter yang dikembangkan Kemdiknas, tampaklah di sana empat dimensinya. Empat dimensi pendidikan karakter meliputi: olah pikir, olah hati, olah raga, dan oleh karsa. Yang patut dicatat dalam empat dimensi ini adalah keterkaitan di antara mereka satu sama lain dilambangkan dengan empat lingkaran yang saling mengikat. Maknanya, karakter seorang individu dinyatakan lengkap jika keempat dimensi itu tumbuh dan berkembang dalam diri yang bersangkutan. Tidak sempurna pribadi seseorang jika hanya pintar saja (olah otak). Apa artinya jika kepandaian jika tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan, kemanusiaan, dan kesosialan serta kewargaan. Karena itu perlu olah hati. Tentu saja, selain otak dan hatinya perlu berkembang, manusia juga perlu berkembang raga dan karsanya. Hal demikian agar ia dapat hadir di lingkungan sosialnya. Otak yang pintar dan hati yang lembut, belum sepenuhnya berguna jika belum memberikan kemanfaatan bagi sekitarnya. Sedangkan olah raga, diperlukan agar seseorang memiliki keterjagaan fisik. Dengan sehat secara fisik, maka ketiga potensi sebelumnya, otak, hati, dan rasa, dapat dimanfaatkan secara optimal. Bayangkan, jika seseorang yang pintar otaknya, lembut hatinya, banyak karsanya, namun sakit-sakitan maka ia tidak akan memberikan dampak yang maksimal bagi lingkungannya.


Nilai Inti Pendidikan Karakter

Mendiknas, M. Nuh mengibaratkan nilai-nilai pada pendidikan karakter itu, termasuk yang berada dalam empat dimensi itu -- sebagai sebuah pohon. Ibarat pohon, pendidikan karakter itu memiliki akar yang karenanya pohon itu dapat tumbuh dan berkembang. Demikian pula seseorang bisa hidup dengan baik jika memiliki nilai-nilai inti karakter sebagai akar kehidupannya. Nilai inti tersebut terdiri dari empat aspek. Pertama, jujur. Semua orang tak terkecuali orang jahat apalagi orang baik, menyukai kejujuran. Kejujuran menghasilkan kebaikan. Dengan jujur, semua masalah menjadi mudah terpecahkan. Kedua, cerdas. Sudah terang jujur merupakan sesuatu yang mendasar dalam hidup seseorang. Namun jujur saja tetapi –maaf- bodoh kurang berarti karena itu akan lebih banyak menjadi beban bagi orang lain. Oleh sebab itu ia harus cerdas supaya bisa mengambil peran aktif dalam menjawab setiap persoalan paling tidak yang menimpa dirinya sendiri. Ketiga, bisa berteman. Apa artinya jujur dan cerdas namun tidak bisa bergaul dengan orang lain? Orang egois, mau menang sendiri saja, dan suka menyakiti orang lain tak banyak manfaatnya walaupun jujur dan cerdas. Karenanya karakter yang harus dimiliki adalah harus bisa berteman. Keempat, bertanggung jawab. Inilah karakter yang menjadi taruhan seseorang dalam kehidupan sosialnya. Sebagai sikap ksatria, karakter bertanggung jawab mencerminkan kepribadian yang dapat diandalkan sekaligus membanggakan. Bukankah setiap perbuatan selalu dimintai pertanggungjawabannya?

Tujuan Pendidikan karakter

Dalam berbagai kesempatan Mendiknas, M. Nuh menegaskan bahwa pendidikan karakter bagi peserta didik Indonesia bertujuan hendak menjadikan manusia Indonesia sebagai individu yang memiliki tiga elemen sekaligus di bawah ini. Pertama, sebagai makhluk Tuhan yang mengakui bahwa semua makhluk di hadapan Tuhan itu sama. Bahwasanya sesame makhluk Tuhan tidak ada yang lebih unggul dan lebih hebat dari yang lainnya. Jika setiap orang memiliki pikiran seperti ini, niscaya akan timbul rasa saling mengasihi antar sesama. Hidup pun menjadi rukun dan saling menghormati, toleran dengan perbedaan, dan suka tolong menolong. Kedua, sebagai manusia intelektual yang memiliki kepenasaranan untuk tahu (curiousity) terhadap berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, seseorang akan pintar dan cerdas karena selalu berusaha menambah ilmu dan keterampilannya. Pada gilirannya, iptek yang dikuasainya tersebut dapat dimanfaatkan bukan saja untuk kepentingan dirinya sendiri melainkan juga kemaslahatan orang lain bahkan warga dunia. Ketiga, sebgai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang cinta dan bangga pada tanah air. Cinta dicirikan oleh rasa memiliki yang kuat pada NKRI yang berasaskan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Bangga diindikasikan oleh raihan prestasi yang disumbangkan pada NKRI demi kejayaan bangsa dan negara. Dengan tiga tujuan utama ini, pendidikan karakter bersifat komprehensif yang hendak menjadikan setiap anak bangsa memiliki watak yang menjunjung tinggi nilai ketaqwaan, kesosialan, dan kebangsaan. Lebih dari itu, watak ketaqwaan, kesosialan, dan kebangsaan tidak dilakukan secara membabi buta melainkan dilaksanakan dengan penuh kesadaran karena ketiga watak ini disertai dengan watak keilmuan (curiousity)

Kearifan Lokal untuk Pendidikan Karakter

Disadari atau tidak, sungguh amat banyak nilai-nilai tradisional yang hidup dalam masyarakat yang dapat dijadikan sebagai muatan pendidikan karakter. Nilai-nilai tradisi ini telah menjadi kearifan lokal yang walaupun berbeda-beda di antara suku-suku bangsa namun memiliki kesamaan yang sangat signifikan. Manakala nilai-nilai tradisional ini hendak disinkronkan dengan pendidikan karakter niscaya sangat sejalan dengan nilai inti dan tujuan pendidikan karakter. Tercatat dalam sejarah perjalanan bangsa kita, kepercayaan pada sesuatu yang supranatural menjadi bagian hidup dari kebanyakan suku bangsa. Sebelum Hindu sebagai agama yang pertama kali datang ke Indonesia, suku-suku bangsa di Tanah Air umumnya menganut animisme dan dinamisme. Mereka percaya bahwa di balik alam yang nyata itu ada kekuatan yang mengendalikan hidup mereka dan mereka memujanya. Lewat pemujaan itu mereka berharap kehidupan mereka, sanak familinya dan lingkungannya berjalan dengan baik. Atas dasar kepercayaan yang dianutnya mereka menata harmoni sosial mereka. Ketika agama-agama masuk mulai dari Hindu, Budha, Konghucu, Kristen, dan Islam, kepercayaan bangsa Indonesia kepada tuhan semakin berkembang. Sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya masing-masing, setiap pemeluk agama percaya bahwa hanya Tuhan yang Maha Besar dan Maha Kuasa; sedangkan manusia harus tunduk dan patuh pada titahNya termasuk menghargai sesama dan melestarikan alam sekitar. Selanjutnya kepercayaan kepada Tuhan itu bukan saja menjadi landasan spiritual serta tuntutan dan tuntunan ritual para pemeluknya, melainkan pula menjadi sumber nilai dan norma sosial seperti kejujuran, tolong menolong, bertanggung jawab dan lain sebagainya. Seperti dimaklumi, salah satu pilar keimanan adalah percaya bahwa Tuhan maha melihat. Pilar inilah yang membuat pemeluk agama merasa harus selalu jujur. Pilar lainnya, setiap perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hadapan Tuhan. Aspek inilah yang mendorong para pemeluk agama selalu mempertimbangkan setiap tindakannya: apakah sejalan dengan ajaran agama ataukah menyimpang. Sedangkan untuk sikap tolong menolong, setiap agama memerintahkannya minimal di anatara pemeluk agamanya masing-masing.
Di samping nilai dan norma yang bersumber dari agama, di tengah masyarakat kita dalam suku-suku bangsa Indonesia juga ada dan masih hidup nilai-nilai dan norma sosial yang bersumber dari adat. Biasanya kearifan lokal yang bersumber dari adat ini berbentuk pepatah petitih yang mengajarkan kebaikan seperti ajakan untuk menambah pengetahuan, dorongan untuk kerja keras, nasihat dalam mengumpulkan kekayaan, unggah ungguh berbahasa, cara menghormati orang lain, hingga ajaran melestarikan alam sekitar. Secara turun temurun kearifan lokal yang bersumber dari adat istiadat itu, dan bersanding dengan kearifan lokal yang bersumber dari ajaran agama, masih terus diwariskan dan sesungguhnya masih hidup di tengah masyarakat kita. Karena itu, ketika pendidikan karakter didengungkan ulang maka sejatinya kearifan lokal itu dapat digunakan untuk memperkuat pendidikan karakter. Sebaliknya pendidikan karakter ini merevitalisasi kearifan lokal untuk dimanfaatkan dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena tokoh-tokoh pemangku kearifan lokal ini pada dasarnya masih banyak, dan pada umumnya terdidik, maka sangat terbukalah peluang mereka untuk menyandingkan pendidikan karakter dan kearifan lokal. Bilamana kita mampu menyandingkan dalam arti menunjukkan bahwa pendidikan karakter sejalan dengan nilai tradisi kita sendiri, maka efektivitas pendidikan karakter akan cepat terasa. Semoga.

Rabu, 30 November 2011

Kisi-kisi Soal UAS Semester Gasal 2011/2012

Berikut ini kisi-kisi soal UAS semester gasal yang siap didownload. Kisi-kisi mapel yang lain masih dalam proses upload.

Matematika XII IPA (klik disini)

Kimia XII IPA (klik disini)

Bahasa Indonesia XII IPA/IPS (klik disini)

Geografi XII IPS (klik disini)

Matematika XI IPA (klik disini)

Bahasa Inggris XI IPA/IPS (klik disini)

Matematika X (klik disini)

Sosiologi X (klik disini)

Akidah Akhlak (klik disini)


Jangan lupa tinggalkan komentar ucapan terima kasih setelah berhasil download di kotak komentar dibawah.

Selasa, 22 November 2011

Serah Terima Pengurus OSIS Masa Bhakti 2011-2012

Setelah melewati proses pemilihan dan LDK ahad (20/11/11), akhirnya kepengurusan OSIS masa bhakti 2011-2012 dilantik. Prosesi pelantikan dilaksanakan bersamaan dengan upacara bendera rutin hari senin (21/11/11) dan dilantik lansung oleh kepala MAN Padangan Drs. Bambang Wiyono. Dalam amanatnya disampaikan agar kepengurusan OSIS yang baru bisa semakin baik dibanding dengan pengurus OSIS sebelumnya.


Surat keputusan dibacakan oleh Waka Kesiswaan yang selaku pembina OSIS Said Edy Wibowo, S.Pd. Setelah pelantikan, dilanjutkan dengan serah terima jabatan yang dilakukan oleh ketua OSIS lama kepada ketua OSIS Baru. (Langit)

Senin, 07 November 2011

Menguji Komitmen Calon Pengurus OSIS Baru Belajar Mengelola Qurban

Ahad, 06 November 2011 bertepatan dengan 10 Dzulhijah diselenggarakan kegiaran peringatan Idul Adha. Rangkaian acaranya meliputi takbir pada malam harinya, sholat Idul Adha, dan dilanjutkan dengan penyembelihan dan pendistribusian hewan qurban.

Acara takbir diikuti oleh siswa putra yang berdomisili disekitar sekolah. Sedangkan acara sholat Ied diikuti oleh seluruh siswa dan siswi MAN Padangan. Untuk penyembelihan dan penyaluran dilakukan oleh guru-guru yang dibantu oleh calon pengurus OSIS yang akan segera dilantik. Sekaligus acara ini dijadikan pembuktian komitmen pengurus OSIS baru terhadap amanah yang akan diperoleh.

Acara berlangsung tertib sampai pukul 13.00 WIB yang dilanjutkan dengan bakar-bakar sate. (Mr.USE)

Minggu, 21 Agustus 2011

Refleksi Proklamasi 1945 Sebagai Spirit Dalam Menggugah Pelajaran Character Building


Oleh: Said Edy Wibowo, S.Pd

Negara kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, bertepatan pada Bulan Suci Ramadhan .Para Pejuang bangsa kita (the founding fathers) yang telah berjuang keras dan bersusah payah telah melahirkan dan membentuk Negara ini dengan pemikiran yang arif dan bijaksana ,dan dengan pandangan yang jauh kedepan telah meletakkan dasar-dasar yang kuat dan teguh diatas nama negara ini dapat tumbuh dan berkembang dalam hidup bermasyarakat ,berbangsa dan bernegara.salah satu prinsip dasar yang diletakkan adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya dengan menjunjung rasa persatuan dan kesatuan bangsa.

Salah satu pertimbangan yang melatarbelakangi pemikiran dari para pejuang pembentuk Negara (the founding fathers) pada waktu itu adalah bahwa Negara yang akan dikelola nanti,dengan jumlah penduduk yang cukup besar,yang terdiri dari berbagai suku,bahasa ,agama,adat istiadat dan sebagainya.

Dalam kurun waktu 66 tahun ini, sebagai tolak ukur keberhasilan bangsa ini dalam mencapai tujuannya ,tidak hanya ditentukan oleh dimilikinya sumber daya alam yang melimpah ruah, akan tetapi sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya .Bahkan ada yang mengatakan “ Bangsa yang besar dapat dilihat dari segi manajemen organisasi ,maka unsur manusia merupakan unsur paling utama dibandingkan dengan unsur lain seperti : Uang (money), metode kerja (method) , mesin ( machine) ,perlengkapan (material) dan pasar (market) , dikatakan demikian , karena tidak dapat dipungkiri bahwa adanya dayaguna, manfaat,dan peran unsur-unsur tersebut, hanya dimungkinkan apabila unsur “manusia” mempunyai ,memiliki daya/kekuatan untuk memberdayakan berbagai unsur dimaksud sehingga masing-masing unsure dapat memberi hasil ,manfaat dan peran dalam menejemen tersebut.
Kaitan dengan manusia sebagai unsur penting sebagai penggerak menejemen maka sangat diperlukan pada saat ini dan akan datang adalah materi pelajaran yang bermuatan character building. Sangat ironis sekali ketika bangsa Indonesia yang telah merdeka selama 66 tahun banyak peristiwa yang sangat tidak lazim : maraknya perkelahian antar pelajar ,mahasiswa yang tidak sedikit merengkut nyawa dan sampai merembes terhadap kenyamanan dalam kehidupan bermasyarakat,

Mengingat karakter suatu masyarakat ,bangsa dan Negara mempunyai nilai dan makna sangat strstegis maka menurut hemat kami materi pelajaran character building harus tetap ditumbuhkan kembangkan pada lembaga pendidikan ,karena dalam kurun waktu terakhir ini seolah banyak diabaikan . padahal pendidikan yang bertumpu pada pembangunan watak (karakter) sangat memiliki feedback positif bagi para anak didik .para siswa yang menerima materi character building ,mampu dan matang dalam penguasaan “ilmu” moral,akademik,social dan organisasi. Sehingga rata-rata mereka berhasil menjadi orang-orang sukses. Pendek kata ,banyak bukti yang menunjukkan bahwa anak didik yang dimatangkan dengan pendidikan character building sangat berbeda dengan dengan anak didik yang sama sekali tidak pernah disentuh oleh materi pendidikan yang bermuatan pembangunan watak tersebut.

Kurikulum character building telah dipertegas dalam undang-undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional .Bunyinya: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa , bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ,berakhlak mulia,sehat,berilmu,cakap,kreatif,mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Pendidikan character building pada intinya untuk membentuk insan yang berkarakter, karena itu pendidikan haruslah didasarkan pada norma yang berlaku, yaitu mencakup aspek religius maupun aspek kebangsaan yang berhubungan dengan landasan bangsa dalam kehidupan bernegara, yang secara garis besar pendidikan karakter akan membentuk manusia terpelajar dengan karakter yang kuat dan berkepribadian kokoh dalam pengembangan serta pengamalan ,pengabdian ,pemberdayaan ilmu untuk kemaslahatan.

Terkait pendidikan pembangunan karakter juga pernah ditekankan oleh sang founding fathers Bung Karno.Dalam bukunya ’ Karakter Mengantar Bangsa dari Gelap Menuju Terang’( 2009) ,ditegaskan dalam buku itu, bung karno menegaskan bahwa tugas berat bangsa Indonesia dalam mengisi Kemerdekaan adalah mengutamakan pelaksanaan nation and character building .Jika pembangunan karakter tidak terwujud ,maka bangsa Indonesia hanya akan menjadi bangsa kuli, kata Bung Karno.
Pendidikan sesungguhnya adalah untuk membangun karakter,dan tidak sekedar keilmuan yang bersifat angka-angka. Kecerdasan yang dituju adalah kecerdasan pikir dan kecerdasan rasa haruslah seiring dan sejalan .dengan kata lain mendidik hati sekaligus memberi rangsangan pikir.

Masihkah di anggap penting ?

Terkait dengan pendidikan karakter buat anak didik kita marilah kita bertanya pada diri kita masing-masing, masih pentingkah pendidikan karakter dilanjutkan?.
Saya sependapat sebuah ilustrasi yang digambarkan dalam film Laskar Pelangi. Disana Pak Harfan, sosok kepala sekolah, mengatakan bahwa pendidikan yang ia perjuangkan bukan sekedar mengukur keberhasilan dengan angka-angka ,tetapi dengan hati.Sehingga proses pendidikan itu mampu melahirkan anak-anak bangsa yang memiliki pikir cerdas sekaligus memiliki hati.
Dan hati yang saya maksud adalah etika dalam bergaul dengan Tuhan,sesame manusia ,dan alam.
Kalo saja Pendidikan character building bisa diajarkan secara utuh disetiap sekolah,mungkin saja ketika menghadapi ujian nasional anak didik kita tidak akan ketakutan atau kebingungan dan negeri yang kita cintai yang telah 66 tahun Merdeka akan mengalami kelangkaan Koruptor. bila dilihat saat ini salah satu penyebab lahirnya koruptor adalah buruknya kualitas moral bangsa.dan harus diakui ,kondisi moral bangsa ini sudah dibilang mencapai titik nadir. Kita lihat saja berita di media cetak maupun elektronik banyak Pejabat Negara, penegak Hukum dan masih banyak lagi contoh di sekeliling kita yang tersandung masalah korupsi dan manipulasi.

Pembangunan watak secara definitife disebut bahwa karakter adalah moral excellence atau akhlak yang dibangun atas kebajikan, karakter baru memiliki makna jika dilandasi nilai Agama dan kebudayaan. Jadi karakter bangsa adalah karakter warga Negara yang dinilai sebagai kebajikan. Karena itu ,nation and character building harus berorientasi pada upaya pengembangan nilai –nilai kebajikan sehingga menghasilkan output jati diri dan kepribadian.
Ironisnya ,para guru tidak mau tau dan tidak mau menghabiskan waktu untuk pendidikan watak, karena pendidikan watak tidak akan ditanyakan dalam semester atau ujian nasional.disinilah letak ketidakselarasan pendidikan kita,pendidikan watak dianggap tidak penting, karena sudah ada pelajaran PAI,Kewarganegaraan dan budi pekerti.

Bila harapan kita semua untuk menerapkan materi pendidikan character building bisa diwujudkan dimana-mana ,tentu bangsa Indonesia tidak akan menjadi bangsa kuli seperti kegalauan yang disampaikan Bung Karno.Demikian pula ,kalau pendidikan watak benar-benar menjadi tradisi untuk diajarkan pada anak didik,maka bisa diyakini anak-anak bangsa Indonesia kelak akan menjadi manusia bermoral.Merekapun tentu akan menjauhi sifat –sifat korup,berakhlak mulia , dan siap menjadi pemimpin bangsa yang bersih ,jujur ,dan berwibawa. Dirgahayu Kemerdekaan Rebuplik Indonesia ke 66 .MERDEKA.


( Penulis adalah Waka Kesiswaan MAN Padangan, tulisan ini juga di muat di La_Rayba edisi bulan agustus)

PERINGATI NUZULUL QUR,AN DENGAN PONDOK ROMADHON


Tahun ini panitia pondok romadhon yang dilaksanakan oleh OSIS MAN Padangan,acara pembukaan yang dimulai Kamis (18/8/11) dilaksanakan dialog yang bertema “Dengan Peringatan Nuzulul Qur,an kita tingkatkan budaya membaca” , acara yang dibuka langsung oleh kepala MAN Padangan Drs.Bambang Wiyono , dalam sambutannya kepala MAN Padangan mengatakan bahwa kegiatan pondok romadhon ini rutin dilaksanakan dan nantinya akan menjadi bekal bagi anak didik ketika berada di masyarakat kelak.

Sebagai narasumber pembukaan adalah Ustad Abdus Syukur guru SDIT AL-HADI, Pondok romadhon yang dilaksanakan selama lima hari, dua hari putra dan dua hari putri, selain pondok romadhon anak-anak dihimbau untuk belajar berbagi dengan kaum dhuafa lewat zakat fitrah, di akhir acara pondok romadhon (23/8/11) zakat yang sudah terkumpul dari siswa di bagikan ke fakir miskin disekitar MAN Padangan(Sadywo)
Older Post ►
 

Copyright 2011 MAN Padangan is proudly powered by blogger.com | Design by BLog BamZ